BLORA – Semburan lumpur kembali mengguncang kawasan Wisata Geologi Oro-oro Kesongo, Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Fenomena alam yang terjadi pada Jumat (7/8/2026) tersebut kembali mengingatkan bahwa kawasan wisata geologi ini bukan sekadar lokasi untuk berburu foto dan konten media sosial.
Berdasarkan laporan aparat setempat, semburan pertama terjadi sekitar pukul 06.30 WIB dengan ketinggian sekitar 10–15 meter. Letupan berikutnya dilaporkan terjadi sekitar pukul 06.50 WIB dan 07.15 WIB. Hingga menjelang siang, tercatat beberapa kali semburan. Meski disebut masih berskala kecil dibandingkan sejumlah kejadian sebelumnya, potensi bahaya tetap tidak boleh diabaikan.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini melakukan pengumpulan informasi dan menyiapkan verifikasi lapangan untuk mengetahui kondisi geologi terkini serta tingkat risiko dari aktivitas tersebut.
Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menegaskan bahwa pemerintah belum dapat menarik kesimpulan mengenai tingkat bahaya hanya berdasarkan video atau informasi yang beredar di media sosial.
“Belum dapat menyimpulkan sebelum memperoleh data dan hasil verifikasi lapangan,” demikian penegasan Lana yang dikutip CNBC Indonesia.

Mirip Lapindo, Tetapi Jangan Gegabah Menyamakan
Kemunculan semburan lumpur Kesongo secara visual mengingatkan publik pada fenomena Lumpur Sidoarjo. Namun, kemiripan tampilan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa mekanisme, sumber, maupun tingkat bahayanya sama.

Justru di titik inilah kajian ilmiah diperlukan.
Badan Geologi menyebut Oro-oro Kesongo memang memiliki karakteristik geologi berupa keluarnya lumpur dan gas dari bawah permukaan bumi. Aktivitas tersebut dapat berlangsung secara periodik dengan intensitas yang berubah-ubah.
Artinya, fenomena tersebut bukan kejadian yang sama sekali baru. Namun, setiap episode semburan tetap perlu diamati karena kondisi dan intensitasnya dapat berbeda.

Peringatan Bukan Sekadar Formalitas
Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan tidak mendekati titik semburan, khususnya ketika aktivitas sedang berlangsung.
Peringatan ini patut dipandang serius. Semburan lumpur bukan hanya persoalan material yang keluar dari permukaan tanah. Gas yang menyertai aktivitas tersebut juga menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan.
Karena itu, menjadikan lokasi semburan sebagai tempat mengambil gambar dari jarak dekat demi konten media sosial merupakan tindakan yang berisiko.
Aparat dan pemerintah daerah juga diminta memastikan area berpotensi bahaya diawasi dengan baik sehingga masyarakat tidak leluasa memasuki titik aktivitas.

Riwayat Kesongo Sudah Cukup Menjadi Peringatan
Kesongo memiliki rekam jejak aktivitas semburan yang telah terjadi berulang kali. ANTARA mencatat kejadian besar pada 27 Agustus 2020 yang menyebabkan empat orang mengalami keracunan dan 18 ekor kerbau dilaporkan hilang. Semburan kembali terjadi pada September 2021.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak seharusnya menganggap setiap semburan sebagai tontonan biasa.
Kajian ilmiah yang diterbitkan lingkungan Kementerian ESDM juga memasukkan Kesongo dalam kajian karakteristik gunung lumpur di Zona Rembang. Kajian tersebut menunjukkan adanya karakteristik geologi gunung lumpur dan keluaran gas di kawasan Kesongo.
Pemerintah Jangan Menunggu Viral Baru Bergerak
Fenomena yang kembali terjadi di Kesongo seharusnya menjadi momentum memperkuat sistem mitigasi di kawasan wisata geologi.
Pemerintah daerah bersama Badan Geologi perlu memastikan informasi mengenai zona aman, zona terbatas, jalur evakuasi, rambu peringatan, serta prosedur penutupan sementara tersedia dan mudah dipahami pengunjung.
Jika hasil verifikasi menunjukkan adanya peningkatan risiko, pembatasan akses harus dilakukan secara tegas. Keselamatan manusia harus ditempatkan jauh di atas kepentingan wisata dan popularitas kawasan.
Lebih penting lagi, informasi kepada masyarakat harus berbasis data. Pemerintah jangan membiarkan ruang publik dipenuhi spekulasi, tetapi juga jangan memberikan rasa aman palsu sebelum pemeriksaan teknis selesai.

Menunggu Data, Warga Diminta Tidak Nekat
Untuk saat ini, Badan Geologi belum menyatakan bahwa semburan terbaru merupakan bencana dengan tingkat bahaya tertentu. Kesimpulan tersebut masih menunggu verifikasi lapangan dan data primer.
Sikap hati-hati tersebut justru penting agar pemberitaan tidak membesar-besarkan ancaman sekaligus tidak meremehkan potensi bahaya.
Pesannya jelas: jangan mendekati titik semburan, jangan memasuki kawasan yang dibatasi petugas, dan jangan menjadikan video viral sebagai panduan keselamatan.
Kesongo adalah fenomena geologi yang menarik untuk dipelajari. Namun, ketika alam menunjukkan aktivitasnya, rasa ingin tahu harus tunduk pada keselamatan.
Pemerintah meneliti, petugas mengawasi, dan masyarakat wajib menjaga jarak. Jangan tunggu korban jatuh untuk menyadari bahwa peringatan keselamatan bukan sekadar formalitas.
Suwidodo




Tinggalkan Balasan